Senin, 07 Mei 2018

Dalam Kediaman Menolak Kerinduan (Memulai Lembaran Baru)



sambungan...

AKU MULAI MENOLAK KERINDUAN
 
Semalam aku tak mampu menahan bicara dan tawaku bersama kawan-kawanku. Aku hanyut dalam kesenangan menyambut pesta desa. Kami akan merayakannya meriah dua hari dua malam. Kami biasanya begadang untuk mempersiapkan acara intinya, perayaan keberhasilan belajar selama satu tahun. Acara rutin satu tahunan yang tak mampu untuk kami lewatkan dengan suka cita. Aku bahkan meluapkan segala kesenanganku hingga aku dan kawan-kawanku berseteru pendapat, tertawa dan saling lempar olokan. Semua itu hanyalah lelucon yang membuatku semakin mampu melupakan master.
Lalu esoknya adalah perayaan hari pertama. Master kembali dalam ingatan dan menjelma menjadi rindu yang tak terjelaskan.
Aku mengingatnya dalam kuntum mawar yang baru berbunga. Aku memungutnya di depan rumahku. Siapa yang menaruh mawar ini di sini ? Aku terus memikirkannya hingga kini, saat yang seharusnya aku mampu untuk bersenang bersama mereka yang merayakan pesta ini. Satu yang membuatku memikirkannya hingga kini adalah makna dari mawar ini. Sepertiku yang tengah merindukan master, aku mulai tertarik padanya yang lalu aku harus kehilangan jejaknya.
Aku berbaring di bawah sinar rembulan yang bulat penuh seakan menimpaku. Mataku terpejam dan menghirup aroma sedap khas malam. Angin yang berembus pelan masuk dalam telingaku melantunkan melodi yang menenangkan. Di atas rerumputan yang belum basah aku terbuai dalam rayuan malam. Aku terlanjur dalam kenyamanan dan menyegerakan larut dalam keindahan rasa. Aku terlelap dalam buaian yang mereka pikir adalah kediamanku.
ooo
Aku menccoba membuka hatiku untuk menerima orang lain dalam kehidupanku. Aku menerima sahabat kecilku yang kembali menawarkan persahabatan. Aku menerima kedatangan orang baru sebagai seorang yang penting dalam hidupku. Bukankah kemarin aku telah mampu tertawa dengan kawan-kawanku ? Berarti aku kini mampu tertawa kembali dengan mereka, bahkan lebih dari mereka. Aku kembali membuka pintuku yang kemarin hanya membiarkan sinar masuk melalui celah pintuku. Aku mulai membuang mawar yang mulai berbunga di taman rumahku. Semua. Ada beberapa yang bahkan diminati oleh tetanggaku. Semua mawar itu memenuhi separuh tamanku. Kakakku terheran melihat tindakan gilaku.
“Jangan gila kau !”
Aku menoleh dengan gerakan yang sungguh lemas. Tak peduli aku padanya. Aku melanjutkan lagi untuk memencabut para mawar ini.
000
Mawar, mengapa harus mawar yang mengingatkanku pada seorang seperti dia ? Aku bahkan tak tahu apa arti perasaanku ini. Aku pikir ini hanya perasaan merasa kehilangan yang akan kembali pulih jika aku telah terbiasa dan bertemu dengan orang baru. Namun, sekian lama aku tersiksa oleh rasa yang ambigu. Bahkan tak ada satupun yang kubagi cerita ini, tentang master. Ah, aku tak akan menyebut nama itu kembali. Ya, seharusnya aku menyebutnya “dia”. Tak ada satupun yang kubagi cerita tentang dia. Cerita ini sungguh tak pasti, aku tak pasti dengan perasaanku. Aku tak pernah mengenalnya, tapi aku menemukan dia selalu berada dekatku saat aku tengah jatuh dan terluka. Aku menemukannya damai bersama baju yang selalu ia pakai baju hitam. Senyumnya tersemat selalu membuatku lebih tenang menghadapi kesulitanku.
Aku tak pernah menemukannya dalam pencarianku. Aku selalu menemukannya dalam kegundahan dan kesulitanku.
Aku berjanji untuk tidak lagi mengungkit tentangnya kembali. Aku memulai dengan bersama kawanku mencari beberapa kain perca untuk membuat selimut. Selimut ?
Begini ceritanya...
Dua hari lalu kami menemukan seekor kucing lucu. Warnanya sungguh cantik. Putih bercorak hitam dengan lingkaran hitam di sekitar matanya. Mirip seekor panda. Kami memutuskan untuk merawatnya bersama. Rumahkulah yang menjadi pilihan untuk tempat tinggal kucing itu. Kami tinggal bersama. Aku bahkan memberinya nama “Terebia”.
000
Aku kembali untuk melakukan kegiatan wajibku. Kembali ke pekerjaanku. Hari ini aku harus membantu bibi Angela untuk mengambil telur ayam dan menghitungnya. Aku senang akan bertemu dengannya. Aku akan membawakannya ubi rebus kesukaannya....

Hasil gambar untuk lembaran baru 
(gambar. sumber :  https://www.google.com/search?client=firefox-b&biw=1366&bih=667&tbm=isch&sa=1&ei=4i7xWtjlHsao0ATxipWACg&q=lembaran+baru&oq=lembaran+baru&gs_l=img.3...10630.13148.0.13576.13.9.0.0.0.0.0.0..0.0....0...1c.1.64.img..13.0.0....0.X-38dBujl2s#imgrc=jji0HD2z-ZX_AM:)

Kamis, 26 April 2018

Tanpa Masterku

...sambungan
Bagaimana jika aku merindukannya ?

Hari berganti. Aku harus melanjutkan kehidupanku dan tak lagi memikirkan tentang master.
Tapi aku tak mampu memungkiri bahwa aku masih memikirkannya. Master, mengapakah kau harus muncul jika akhirnya kau harus pergi ? kadang dalam malam sepiku aku menuliskan namamu dalam buku harianku. Aku mecurahkan segala rasaku dalam buku itu. Betapa aku menantinya, dia mungkin orang yang baik. Tapi apakah aku harus memanggilnya sebagai orang ? Dia menghilang seperti hantu.
Daun berguguran seperti harapanku yang gugur menanti datangnya master. Retak sudah hatiku tak tahan menanti kehadirannya. Bungaku pun berguguran. Aku berada dalam kondisi yang sangat menyedihkan seperti segala langitku runtuh sejadinya. Aku bahkan tak memedulikan lagi berapa air mataku yang jatuh membasahi bantalku. Aku tak lagi merasakan senyum di bibirku lagi.
Aku tergeletak dalam kesedihanku.


Seseorang membangunkanku dan menyeret tanganku membawaku ke sebuah tempat yang asing bagiku. Tempat bertebaran bunga berbau harum dan seorang lelaki memandang pegunungan indah. Beberapa hewan menggemaskan pun ada di sana. Siput, tupai, kucing, kelinci dan banyak lainnya. Aku mendekati sosok lelaki itu. Perlahan dengan langkahku yang pasti. Dia berbalik badan sebelum aku memanggil dan sampai di dekatnya. Dia tersenyum. Dia menyingkapkan penutup kepalanya dan melepas baju luarnya.
Berambut panjang dan memakai gaun yang sungguh indah. Dia seorang wanita.
“Master ?”
Dia tersenyum dan memetik bunga mawar untukku.
ooo
aku tertidur dalam legamnya mega
terbangun dalam senyuman sang fajar

“mengapa aku selalu begini ?
tak pernah berakrab dengan sang mega ?”

aku terbaring dalam rerumputan basah
hasil kolaborasi angin dan malam
000
Aku merindukan master. Aku ingin bercerita banyak dengannya tentang pekerjaanku di peternakan milik Tuan Brenz. Pekerjaanku mengasyikkan sekali. Aku sangat menikmatinya. Tapi master harus tahu tentang ceritaku karena hanya aku yang mampu menghiburnya saat dia lelah dengan urusannya. Aku membuatnya tertawa dan tak sedih lagi. Tapi, dimanakah master ? Sudah sebulan ini aku tak bisa menemuinya setelah kami berargumen hebat tentang kasus Tuan Alfred, teman Tuan Brenz yang menipu koleganya dan berhasil membawa kabur uang yang sangat banyak. Entahlah berapa nominalnya. Yang pasti itu sangat merugikan koleganya. Master membela Tuan Alfred yang jelas-jelas salah dalam kasus ini. Aku bersikukuh tak mau mendengar pendapatnya, dan dia pun pergi dengan mengatakan “kau masih seperti itu, belum mampu memakan biji-bijian”. Pergilah ke silo dan bertanyalah pada benih padi yang setiap hari kau ajak bicara. Aku akan kembali satu bulan lagi. Tapi setelah satu bulan lebih delapan hari, dia tak kunjung datang.

Sudahlah, tak ada gunanya pula aku begini. Aku akan pergi ke silo dan mengajak Ransi mencari hewan kecil yang berjalan mundur. Aku tak tahu namanya, orang bilang dia harus dimakan mentah-mentah untuk menyembuhkan tipus kakakku. Aku harus bersiap dan membawa toples besar.
Silo itu milik Tuan Brenz yang terhormat bagiku. Aku sangat mengaguminya. Dia membangun silo untuk para petani di lingkungan sekitar tempat tinggalnya. Dia membangunnya dengan uang pribadinya. Peternakan miliknya berkembang pesat. Dan aku termasuk andil di dalamnya. Aku membantunya mengurus peternakan terutama segala yang berhubungan dengan sapi. Kadang aku membantu Bibi Angela untuk mengambil dan menghitung telur ayam. Senangnya...

Hari ke-20 setelah pertemuanku dengan master di dalam mimpi aneh
Dua puluh hari sudah aku berada dalam tanda tanya kembali. Aku kembali mengingat master setelah aku memutuskan untuk menjalani hidupku tanpa kabar master lagi. Tanpa master kembali. Sepertinya bunga mawarku kembali disiram air setelah dia hampir layu. Aku.....


bersambung...

Flashback (dari Ceritaku tentang Master)

...sambungan
Ceritaku tentang bagaimana aku mengenal Master

Lalu, bagaimana aku mengenalnya ? Sederhana saja. Aku telah berada di ujung jalan dari kelelahanku berlari dikejar orang gila yang akan menjadikanku sebagai korbannya. Dia, kau tahu apa yang akan dia lakukan ? Dia mungkin pelaku penyimpangan seksual yang cenderung memamerkan kelaminnya pada orang yang lewat di kebun duku di daerah ujung Baracuda dekat Walington. Seorang laki-laki paruh baya yang aku yakin telah mengalami gangguan kejiwaan dan dia telah menjadikan banyak orang yang melewati kebun itu sebagai korbannya. Begitu kurang lebihnya yang kudengar dari sahabatku yang memang tinggal di daerah dekat situ.
Kembali pada cerita perkenalanku dengan master. Ya, aku hampir saja jadi korban laki-laki gila itu. Sepulangku dari tempat sahabatku, aku memilih berjalan kaki menuju jalan besar. Sahabatku telah memaksaku untuk mengantarku hingga jalan besar, tapi aku menolaknya. Kakakku mengatakan akan menjemputku segera, karena kebetulan dia mengirim galon air mineral ke daerah dekat tempat tinggal sahabatku. Tapi sungguhlah mungkin takdirku begini. Kakakku mendapat panggilan dari atasannya untuk segera kembali ke kantor, belum lagi dia bertemu kawannya. Sehingga kendaraanpun penuh oleh orang. Ya, satu kernet dan kawannya cukuplah membuatku memiliki alasan untuk bertemu laki-laki gila itu. Siall..
Suara berisik terdengar dari balik pohon duku yang bersemak dan penuh dengan daun kering. Aku mempercepat langkahku segera. Dan berpura menyanyi kecil untuk menekan rasa takutku. Justru suara berisik itu lenyap ditelan suara cancorang. Aku sedikit lega. Aku pun melanjutkan perjalananku dengan sedikit lega. Tapi, sungguh takdir tak mampu untuk kutolak. Seorang laki-laki mengagetkanku dari arah depan. Entah bagaimana dia mampu untuk berada di depanku. Dia membuka sarungnya segera ketika melihatku kaget. Lalu aku segera harus menutup mataku. Tiba-tiba dia menarik tanganku. Aku sungguh sangat takut. Aku mencoba melepas tangannya sembari tertutup mataku. Justru mulutku ditutup dan dia mengatakan untuk membuka mataku. Jelas aku tak mau.
“Aku bukan laki-laki gila”
Itu bahkan membuatku merasa yakin bahwa aku telah berada dalam bahaya laki-laki gila itu. Lalu dia melepas tanganku dan diam. Aku perlahan membuka mata. Dengan berhati-hati tentunya. Seorang laki-laki dengan pakaian hitam berbadan proporsional lebih tinggi dariku. Aku bahkan lebih kaget dan mencoba untuk berlari. Aku pergi ke luar semak, dan menemukan seseorang dari kejauahan tampak mencari orang. Dia adalah laki-laki gila. Lalu, aku kembali ke tempat laki-laki misterius itu. Dia tersenyum.
“Kutunjukan jalan pulang aman untukmu”
Dia menarik tanganku dan membawaku ke sebuah jalan yang tak kukenal. Tapi apalah dayaku. Daripada aku harus bertemu dengan laki-laki gila itu, aku lebih memilih bersama laki-laki ini meski tak kukenal. Di perjalanan itulah kami mulai membicarakan sesuatu terkhusus mengenai laki-laki gila itu. Bahkan kami mulai bercanda, bercanda dan bercerita. Perjalanan serasa sangat mengasyikan bagiku hingga kami berada di jalan besar. Dia menunjukkanku sebuah bus untuk pulang. Aku melihatnya dan berteriak senang. Aku berpamitan pada master, yang telah kupanggil selama perjalanan. Tapi yang kudapati adalah angin yang menyibak rambut kencang.
Dalam perjalanan pulang di bus, aku terus memikirkan master. Siapa dia ? Mengapa dia menolongku ? Mengapa dia menghilang begitu saja ? Apakah dia hantu ? Lalu, apa maksudnya kejadian ini ? Begitu hingga aku harus turun di terminal, aku masih berkutat dengan pikiranku.


bersambung...

Tentang Anak Panah


[Indah] | [Tentang Anak Panah] | [23 April 2018]

    
    
Kisah pertemuanku dengan dia yang selama ini kudambakan kehadirannya. Tersibak kabut dingin yang menemani malam sepi dalam naungan sinar rembulan yang sinarnya menerobos sela-sela pepohonan rimbun. Aku bertemu denganmu, dengan senyummu yang memenuhi tanya dalam pikiranku. Semua tentang kamu hingga aku bertemu anak berbaju merah jambu. Dia memiliki senyum tulus dan kepolosannya masih murni bak mata air dari pegunungan Carsle.



Anak Panah yang Melesat ke Rumah Tuan
Apa yang ingin didapatkan tuan dari panah itu ?

Ini bukan tentang laporan tahunan. Bukan pula tentang cerita sungguhan yang kita harus selalu serius dalam melihat tiap kata yang tertuang dalam lembar yang lembut ini.

Ini bukan tentang kisah seseorang, bukan pula tentang sesuatu yang harus diyakini keberadaannya. Karena ini adalah buah pikiran seorang yang selalu melambungkan imajinasinya yang tak seberapa dan tak ingin dikatakan sebagai pembual kata. Ini akan tentang apa, master ? Ini adalah tentang ceirta dalam pengarangan yang sungguh ingin kuceritakan pada angin yang berembus setiap saat tanpa henti memberikan kehidupan bagi yang membutuhkannya. Dia tak akan peduli pada siapa yang tidak bersyukur atas karunia Tuhan. “Toh, nantinya dia akan tahu sendiri kenyataannya”, begitu ucapnya padaku suatu hari saat kita membicarakan tentang kedahsyatan peran udara bagi kehidupan manusia. Entah mengapa saat itu aku ingin sekali membahas tentang peran dahsyat udara. Yang membuatku heran adalah dia selalu meladeni pertanyaannku yang tak penting ini. Padahal dia sendiri adalah seorang yang sangat sibuk dengan urusannya sendiri.

Biar kuceritakan tentang masterku itu. Dia adalah seorang yang tak pernah mau menunjukkan dirinya padaku. Entah dia perempuan atau laki-laki. Tapi aku selalu merasa dia adalah laki-laki karena penampilannya selalu begitu. Berbaju hitam dan kadang-kadang memakai jaket cokelat, rambutnya seperti artis korea (Kim Bum), wajahnya cantik, tapi perawakannya seperti laki-laki. Dia pun tampan jika diperhatikan. Harus kukatakan apa mengenai jenis kelaminnya ? Aku tak pernah menanyakan mengenai dirinya. Aku hanya memanggilnya master. Dia pun tak keberatan kupanggil demikian. Senyumnya begitu tipis dari bibirnya yang sungguh membuatku senang dan beruntung melihat makhluk seindah itu. Aku mungkin lancang mengatakan bahwa dia adalah “makhluk” yang indah. Tapi, entahlah aku harus menyebutnya apa demi menuahkan rasa kagumku untuk menyebut keindahannya.



Dalam Kediaman Menolak Kerinduan (Memulai Lembaran Baru)

sambungan... AKU MULAI MENOLAK KERINDUAN   Semalam aku tak mampu menahan bicara dan tawaku bersama kawan-kawanku. Aku hanyut da...