Kamis, 26 April 2018

Flashback (dari Ceritaku tentang Master)

...sambungan
Ceritaku tentang bagaimana aku mengenal Master

Lalu, bagaimana aku mengenalnya ? Sederhana saja. Aku telah berada di ujung jalan dari kelelahanku berlari dikejar orang gila yang akan menjadikanku sebagai korbannya. Dia, kau tahu apa yang akan dia lakukan ? Dia mungkin pelaku penyimpangan seksual yang cenderung memamerkan kelaminnya pada orang yang lewat di kebun duku di daerah ujung Baracuda dekat Walington. Seorang laki-laki paruh baya yang aku yakin telah mengalami gangguan kejiwaan dan dia telah menjadikan banyak orang yang melewati kebun itu sebagai korbannya. Begitu kurang lebihnya yang kudengar dari sahabatku yang memang tinggal di daerah dekat situ.
Kembali pada cerita perkenalanku dengan master. Ya, aku hampir saja jadi korban laki-laki gila itu. Sepulangku dari tempat sahabatku, aku memilih berjalan kaki menuju jalan besar. Sahabatku telah memaksaku untuk mengantarku hingga jalan besar, tapi aku menolaknya. Kakakku mengatakan akan menjemputku segera, karena kebetulan dia mengirim galon air mineral ke daerah dekat tempat tinggal sahabatku. Tapi sungguhlah mungkin takdirku begini. Kakakku mendapat panggilan dari atasannya untuk segera kembali ke kantor, belum lagi dia bertemu kawannya. Sehingga kendaraanpun penuh oleh orang. Ya, satu kernet dan kawannya cukuplah membuatku memiliki alasan untuk bertemu laki-laki gila itu. Siall..
Suara berisik terdengar dari balik pohon duku yang bersemak dan penuh dengan daun kering. Aku mempercepat langkahku segera. Dan berpura menyanyi kecil untuk menekan rasa takutku. Justru suara berisik itu lenyap ditelan suara cancorang. Aku sedikit lega. Aku pun melanjutkan perjalananku dengan sedikit lega. Tapi, sungguh takdir tak mampu untuk kutolak. Seorang laki-laki mengagetkanku dari arah depan. Entah bagaimana dia mampu untuk berada di depanku. Dia membuka sarungnya segera ketika melihatku kaget. Lalu aku segera harus menutup mataku. Tiba-tiba dia menarik tanganku. Aku sungguh sangat takut. Aku mencoba melepas tangannya sembari tertutup mataku. Justru mulutku ditutup dan dia mengatakan untuk membuka mataku. Jelas aku tak mau.
“Aku bukan laki-laki gila”
Itu bahkan membuatku merasa yakin bahwa aku telah berada dalam bahaya laki-laki gila itu. Lalu dia melepas tanganku dan diam. Aku perlahan membuka mata. Dengan berhati-hati tentunya. Seorang laki-laki dengan pakaian hitam berbadan proporsional lebih tinggi dariku. Aku bahkan lebih kaget dan mencoba untuk berlari. Aku pergi ke luar semak, dan menemukan seseorang dari kejauahan tampak mencari orang. Dia adalah laki-laki gila. Lalu, aku kembali ke tempat laki-laki misterius itu. Dia tersenyum.
“Kutunjukan jalan pulang aman untukmu”
Dia menarik tanganku dan membawaku ke sebuah jalan yang tak kukenal. Tapi apalah dayaku. Daripada aku harus bertemu dengan laki-laki gila itu, aku lebih memilih bersama laki-laki ini meski tak kukenal. Di perjalanan itulah kami mulai membicarakan sesuatu terkhusus mengenai laki-laki gila itu. Bahkan kami mulai bercanda, bercanda dan bercerita. Perjalanan serasa sangat mengasyikan bagiku hingga kami berada di jalan besar. Dia menunjukkanku sebuah bus untuk pulang. Aku melihatnya dan berteriak senang. Aku berpamitan pada master, yang telah kupanggil selama perjalanan. Tapi yang kudapati adalah angin yang menyibak rambut kencang.
Dalam perjalanan pulang di bus, aku terus memikirkan master. Siapa dia ? Mengapa dia menolongku ? Mengapa dia menghilang begitu saja ? Apakah dia hantu ? Lalu, apa maksudnya kejadian ini ? Begitu hingga aku harus turun di terminal, aku masih berkutat dengan pikiranku.


bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dalam Kediaman Menolak Kerinduan (Memulai Lembaran Baru)

sambungan... AKU MULAI MENOLAK KERINDUAN   Semalam aku tak mampu menahan bicara dan tawaku bersama kawan-kawanku. Aku hanyut da...