Ceritaku tentang bagaimana aku mengenal Master
Lalu, bagaimana aku mengenalnya ? Sederhana saja. Aku telah berada di ujung
jalan dari kelelahanku berlari dikejar orang gila yang akan menjadikanku
sebagai korbannya. Dia, kau tahu apa yang akan dia lakukan ? Dia mungkin pelaku
penyimpangan seksual yang cenderung memamerkan kelaminnya pada orang yang lewat
di kebun duku di daerah ujung Baracuda dekat Walington. Seorang laki-laki paruh
baya yang aku yakin telah mengalami gangguan kejiwaan dan dia telah menjadikan
banyak orang yang melewati kebun itu sebagai korbannya. Begitu kurang lebihnya
yang kudengar dari sahabatku yang memang tinggal di daerah dekat situ.
Kembali pada cerita perkenalanku dengan master. Ya, aku hampir saja jadi
korban laki-laki gila itu. Sepulangku dari tempat sahabatku, aku memilih
berjalan kaki menuju jalan besar. Sahabatku telah memaksaku untuk mengantarku
hingga jalan besar, tapi aku menolaknya. Kakakku mengatakan akan menjemputku
segera, karena kebetulan dia mengirim galon air mineral ke daerah dekat tempat
tinggal sahabatku. Tapi sungguhlah mungkin takdirku begini. Kakakku mendapat
panggilan dari atasannya untuk segera kembali ke kantor, belum lagi dia bertemu
kawannya. Sehingga kendaraanpun penuh oleh orang. Ya, satu kernet dan kawannya
cukuplah membuatku memiliki alasan untuk bertemu laki-laki gila itu. Siall..
Suara berisik terdengar dari balik pohon duku yang bersemak dan penuh
dengan daun kering. Aku mempercepat langkahku segera. Dan berpura menyanyi
kecil untuk menekan rasa takutku. Justru suara berisik itu lenyap ditelan suara
cancorang. Aku sedikit lega. Aku pun melanjutkan perjalananku dengan sedikit
lega. Tapi, sungguh takdir tak mampu untuk kutolak. Seorang laki-laki
mengagetkanku dari arah depan. Entah bagaimana dia mampu untuk berada di
depanku. Dia membuka sarungnya segera ketika melihatku kaget. Lalu aku segera
harus menutup mataku. Tiba-tiba dia menarik tanganku. Aku sungguh sangat takut.
Aku mencoba melepas tangannya sembari tertutup mataku. Justru mulutku ditutup
dan dia mengatakan untuk membuka mataku. Jelas aku tak mau.
“Aku bukan laki-laki gila”
Itu bahkan membuatku merasa yakin bahwa aku telah berada dalam bahaya
laki-laki gila itu. Lalu dia melepas tanganku dan diam. Aku perlahan membuka
mata. Dengan berhati-hati tentunya. Seorang laki-laki dengan pakaian hitam
berbadan proporsional lebih tinggi dariku. Aku bahkan lebih kaget dan mencoba
untuk berlari. Aku pergi ke luar semak, dan menemukan seseorang dari kejauahan
tampak mencari orang. Dia adalah laki-laki gila. Lalu, aku kembali ke tempat
laki-laki misterius itu. Dia tersenyum.
“Kutunjukan jalan pulang aman untukmu”
Dia menarik tanganku dan membawaku ke sebuah jalan yang tak kukenal. Tapi
apalah dayaku. Daripada aku harus bertemu dengan laki-laki gila itu, aku lebih
memilih bersama laki-laki ini meski tak kukenal. Di perjalanan itulah kami
mulai membicarakan sesuatu terkhusus mengenai laki-laki gila itu. Bahkan kami
mulai bercanda, bercanda dan bercerita. Perjalanan serasa sangat mengasyikan
bagiku hingga kami berada di jalan besar. Dia menunjukkanku sebuah bus untuk
pulang. Aku melihatnya dan berteriak senang. Aku berpamitan pada master, yang
telah kupanggil selama perjalanan. Tapi yang kudapati adalah angin yang
menyibak rambut kencang.
Dalam perjalanan pulang di bus, aku terus memikirkan master. Siapa dia ?
Mengapa dia menolongku ? Mengapa dia menghilang begitu saja ? Apakah dia hantu
? Lalu, apa maksudnya kejadian ini ? Begitu hingga aku harus turun di terminal,
aku masih berkutat dengan pikiranku.
bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar