|
|
|
|
Ini bukan tentang laporan tahunan. Bukan pula tentang cerita sungguhan yang
kita harus selalu serius dalam melihat tiap kata yang tertuang dalam lembar
yang lembut ini.
Ini bukan tentang kisah seseorang, bukan pula tentang sesuatu yang harus
diyakini keberadaannya. Karena ini adalah buah pikiran seorang yang selalu
melambungkan imajinasinya yang tak seberapa dan tak ingin dikatakan sebagai
pembual kata. Ini akan tentang apa, master ? Ini adalah tentang ceirta dalam
pengarangan yang sungguh ingin kuceritakan pada angin yang berembus setiap saat
tanpa henti memberikan kehidupan bagi yang membutuhkannya. Dia tak akan peduli
pada siapa yang tidak bersyukur atas karunia Tuhan. “Toh, nantinya dia akan tahu
sendiri kenyataannya”, begitu ucapnya padaku suatu hari saat kita membicarakan
tentang kedahsyatan peran udara bagi kehidupan manusia. Entah mengapa saat itu
aku ingin sekali membahas tentang peran dahsyat udara. Yang membuatku heran
adalah dia selalu meladeni pertanyaannku yang tak penting ini. Padahal dia
sendiri adalah seorang yang sangat sibuk dengan urusannya sendiri.
Biar kuceritakan tentang masterku itu. Dia adalah seorang yang tak pernah mau menunjukkan dirinya padaku. Entah dia perempuan atau laki-laki. Tapi aku selalu merasa dia adalah laki-laki karena penampilannya selalu begitu. Berbaju hitam dan kadang-kadang memakai jaket cokelat, rambutnya seperti artis korea (Kim Bum), wajahnya cantik, tapi perawakannya seperti laki-laki. Dia pun tampan jika diperhatikan. Harus kukatakan apa mengenai jenis kelaminnya ? Aku tak pernah menanyakan mengenai dirinya. Aku hanya memanggilnya master. Dia pun tak keberatan kupanggil demikian. Senyumnya begitu tipis dari bibirnya yang sungguh membuatku senang dan beruntung melihat makhluk seindah itu. Aku mungkin lancang mengatakan bahwa dia adalah “makhluk” yang indah. Tapi, entahlah aku harus menyebutnya apa demi menuahkan rasa kagumku untuk menyebut keindahannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar