Kamis, 26 April 2018

Tentang Anak Panah


[Indah] | [Tentang Anak Panah] | [23 April 2018]

    
    
Kisah pertemuanku dengan dia yang selama ini kudambakan kehadirannya. Tersibak kabut dingin yang menemani malam sepi dalam naungan sinar rembulan yang sinarnya menerobos sela-sela pepohonan rimbun. Aku bertemu denganmu, dengan senyummu yang memenuhi tanya dalam pikiranku. Semua tentang kamu hingga aku bertemu anak berbaju merah jambu. Dia memiliki senyum tulus dan kepolosannya masih murni bak mata air dari pegunungan Carsle.



Anak Panah yang Melesat ke Rumah Tuan
Apa yang ingin didapatkan tuan dari panah itu ?

Ini bukan tentang laporan tahunan. Bukan pula tentang cerita sungguhan yang kita harus selalu serius dalam melihat tiap kata yang tertuang dalam lembar yang lembut ini.

Ini bukan tentang kisah seseorang, bukan pula tentang sesuatu yang harus diyakini keberadaannya. Karena ini adalah buah pikiran seorang yang selalu melambungkan imajinasinya yang tak seberapa dan tak ingin dikatakan sebagai pembual kata. Ini akan tentang apa, master ? Ini adalah tentang ceirta dalam pengarangan yang sungguh ingin kuceritakan pada angin yang berembus setiap saat tanpa henti memberikan kehidupan bagi yang membutuhkannya. Dia tak akan peduli pada siapa yang tidak bersyukur atas karunia Tuhan. “Toh, nantinya dia akan tahu sendiri kenyataannya”, begitu ucapnya padaku suatu hari saat kita membicarakan tentang kedahsyatan peran udara bagi kehidupan manusia. Entah mengapa saat itu aku ingin sekali membahas tentang peran dahsyat udara. Yang membuatku heran adalah dia selalu meladeni pertanyaannku yang tak penting ini. Padahal dia sendiri adalah seorang yang sangat sibuk dengan urusannya sendiri.

Biar kuceritakan tentang masterku itu. Dia adalah seorang yang tak pernah mau menunjukkan dirinya padaku. Entah dia perempuan atau laki-laki. Tapi aku selalu merasa dia adalah laki-laki karena penampilannya selalu begitu. Berbaju hitam dan kadang-kadang memakai jaket cokelat, rambutnya seperti artis korea (Kim Bum), wajahnya cantik, tapi perawakannya seperti laki-laki. Dia pun tampan jika diperhatikan. Harus kukatakan apa mengenai jenis kelaminnya ? Aku tak pernah menanyakan mengenai dirinya. Aku hanya memanggilnya master. Dia pun tak keberatan kupanggil demikian. Senyumnya begitu tipis dari bibirnya yang sungguh membuatku senang dan beruntung melihat makhluk seindah itu. Aku mungkin lancang mengatakan bahwa dia adalah “makhluk” yang indah. Tapi, entahlah aku harus menyebutnya apa demi menuahkan rasa kagumku untuk menyebut keindahannya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dalam Kediaman Menolak Kerinduan (Memulai Lembaran Baru)

sambungan... AKU MULAI MENOLAK KERINDUAN   Semalam aku tak mampu menahan bicara dan tawaku bersama kawan-kawanku. Aku hanyut da...