Bagaimana jika aku merindukannya ?
Hari berganti. Aku harus melanjutkan kehidupanku
dan tak lagi memikirkan tentang master.
Tapi aku tak mampu memungkiri bahwa aku masih memikirkannya. Master,
mengapakah kau harus muncul jika akhirnya kau harus pergi ? kadang dalam malam
sepiku aku menuliskan namamu dalam buku harianku. Aku mecurahkan segala rasaku
dalam buku itu. Betapa aku menantinya, dia mungkin orang yang baik. Tapi apakah
aku harus memanggilnya sebagai orang ? Dia menghilang seperti hantu.
Daun berguguran seperti harapanku yang gugur menanti datangnya master.
Retak sudah hatiku tak tahan menanti kehadirannya. Bungaku pun berguguran. Aku
berada dalam kondisi yang sangat menyedihkan seperti segala langitku runtuh
sejadinya. Aku bahkan tak memedulikan lagi berapa air mataku yang jatuh
membasahi bantalku. Aku tak lagi merasakan senyum di bibirku lagi.
Aku tergeletak dalam kesedihanku.
Seseorang membangunkanku dan menyeret tanganku membawaku ke sebuah tempat
yang asing bagiku. Tempat bertebaran bunga berbau harum dan seorang lelaki
memandang pegunungan indah. Beberapa hewan menggemaskan pun ada di sana. Siput,
tupai, kucing, kelinci dan banyak lainnya. Aku mendekati sosok lelaki itu.
Perlahan dengan langkahku yang pasti. Dia berbalik badan sebelum aku memanggil
dan sampai di dekatnya. Dia tersenyum. Dia menyingkapkan penutup kepalanya dan
melepas baju luarnya.
Berambut panjang dan memakai gaun yang sungguh indah. Dia seorang wanita.
“Master ?”
Dia tersenyum dan memetik bunga mawar untukku.
ooo
aku tertidur dalam legamnya mega
terbangun dalam senyuman sang fajar
“mengapa aku selalu begini ?
tak pernah berakrab dengan sang mega ?”
aku terbaring dalam rerumputan basah
hasil kolaborasi angin dan malam
000
Aku merindukan master. Aku ingin bercerita banyak dengannya tentang
pekerjaanku di peternakan milik Tuan Brenz. Pekerjaanku mengasyikkan sekali.
Aku sangat menikmatinya. Tapi master harus tahu tentang ceritaku karena hanya
aku yang mampu menghiburnya saat dia lelah dengan urusannya. Aku membuatnya
tertawa dan tak sedih lagi. Tapi, dimanakah master ? Sudah sebulan ini aku tak
bisa menemuinya setelah kami berargumen hebat tentang kasus Tuan Alfred, teman
Tuan Brenz yang menipu koleganya dan berhasil membawa kabur uang yang sangat
banyak. Entahlah berapa nominalnya. Yang pasti itu sangat merugikan koleganya.
Master membela Tuan Alfred yang jelas-jelas salah dalam kasus ini. Aku
bersikukuh tak mau mendengar pendapatnya, dan dia pun pergi dengan mengatakan
“kau masih seperti itu, belum mampu memakan biji-bijian”. Pergilah ke silo dan
bertanyalah pada benih padi yang setiap hari kau ajak bicara. Aku akan kembali
satu bulan lagi. Tapi setelah satu bulan lebih delapan hari, dia tak kunjung
datang.
Sudahlah, tak ada gunanya pula aku begini. Aku akan pergi ke silo dan
mengajak Ransi mencari hewan kecil yang berjalan mundur. Aku tak tahu namanya,
orang bilang dia harus dimakan mentah-mentah untuk menyembuhkan tipus kakakku.
Aku harus bersiap dan membawa toples besar.
Silo itu milik Tuan Brenz yang terhormat bagiku. Aku sangat mengaguminya.
Dia membangun silo untuk para petani di lingkungan sekitar tempat tinggalnya.
Dia membangunnya dengan uang pribadinya. Peternakan miliknya berkembang pesat.
Dan aku termasuk andil di dalamnya. Aku membantunya mengurus peternakan
terutama segala yang berhubungan dengan sapi. Kadang aku membantu Bibi Angela
untuk mengambil dan menghitung telur ayam. Senangnya...
Hari ke-20 setelah pertemuanku dengan master di dalam mimpi aneh
Dua puluh hari sudah aku berada dalam tanda tanya
kembali. Aku kembali mengingat master setelah aku memutuskan untuk menjalani
hidupku tanpa kabar master lagi. Tanpa master kembali. Sepertinya bunga mawarku
kembali disiram air setelah dia hampir layu. Aku.....bersambung...

