sambungan...
AKU MULAI MENOLAK KERINDUAN
Semalam aku tak mampu menahan bicara dan tawaku bersama kawan-kawanku. Aku
hanyut dalam kesenangan menyambut pesta desa. Kami akan merayakannya meriah dua
hari dua malam. Kami biasanya begadang untuk mempersiapkan acara intinya,
perayaan keberhasilan belajar selama satu tahun. Acara rutin satu tahunan yang
tak mampu untuk kami lewatkan dengan suka cita. Aku bahkan meluapkan segala
kesenanganku hingga aku dan kawan-kawanku berseteru pendapat, tertawa dan
saling lempar olokan. Semua itu hanyalah lelucon yang membuatku semakin mampu
melupakan master.
Lalu esoknya adalah perayaan hari pertama. Master kembali dalam ingatan dan
menjelma menjadi rindu yang tak terjelaskan.
Aku mengingatnya dalam kuntum mawar yang baru berbunga. Aku memungutnya di
depan rumahku. Siapa yang menaruh mawar ini di sini ? Aku terus memikirkannya
hingga kini, saat yang seharusnya aku mampu untuk bersenang bersama mereka yang
merayakan pesta ini. Satu yang membuatku memikirkannya hingga kini adalah makna
dari mawar ini. Sepertiku yang tengah merindukan master, aku mulai tertarik
padanya yang lalu aku harus kehilangan jejaknya.
Aku berbaring di bawah sinar rembulan yang bulat penuh seakan menimpaku.
Mataku terpejam dan menghirup aroma sedap khas malam. Angin yang berembus pelan
masuk dalam telingaku melantunkan melodi yang menenangkan. Di atas rerumputan
yang belum basah aku terbuai dalam rayuan malam. Aku terlanjur dalam kenyamanan
dan menyegerakan larut dalam keindahan rasa. Aku terlelap dalam buaian yang
mereka pikir adalah kediamanku.
ooo
Aku menccoba membuka hatiku untuk menerima orang lain dalam kehidupanku.
Aku menerima sahabat kecilku yang kembali menawarkan persahabatan. Aku menerima
kedatangan orang baru sebagai seorang yang penting dalam hidupku. Bukankah
kemarin aku telah mampu tertawa dengan kawan-kawanku ? Berarti aku kini mampu
tertawa kembali dengan mereka, bahkan lebih dari mereka. Aku kembali membuka
pintuku yang kemarin hanya membiarkan sinar masuk melalui celah pintuku. Aku
mulai membuang mawar yang mulai berbunga di taman rumahku. Semua. Ada beberapa
yang bahkan diminati oleh tetanggaku. Semua mawar itu memenuhi separuh tamanku.
Kakakku terheran melihat tindakan gilaku.
“Jangan gila kau !”
Aku menoleh dengan gerakan yang sungguh lemas. Tak peduli aku padanya. Aku
melanjutkan lagi untuk memencabut para mawar ini.
000
Mawar, mengapa harus mawar yang mengingatkanku pada seorang seperti dia ?
Aku bahkan tak tahu apa arti perasaanku ini. Aku pikir ini hanya perasaan
merasa kehilangan yang akan kembali pulih jika aku telah terbiasa dan bertemu
dengan orang baru. Namun, sekian lama aku tersiksa oleh rasa yang ambigu.
Bahkan tak ada satupun yang kubagi cerita ini, tentang master. Ah, aku tak akan
menyebut nama itu kembali. Ya, seharusnya aku menyebutnya “dia”. Tak ada
satupun yang kubagi cerita tentang dia. Cerita ini sungguh tak pasti, aku tak
pasti dengan perasaanku. Aku tak pernah mengenalnya, tapi aku menemukan dia
selalu berada dekatku saat aku tengah jatuh dan terluka. Aku menemukannya damai
bersama baju yang selalu ia pakai baju hitam. Senyumnya tersemat selalu
membuatku lebih tenang menghadapi kesulitanku.
Aku tak pernah menemukannya dalam pencarianku. Aku selalu menemukannya
dalam kegundahan dan kesulitanku.
Aku berjanji untuk tidak lagi mengungkit tentangnya kembali. Aku memulai
dengan bersama kawanku mencari beberapa kain perca untuk membuat selimut.
Selimut ?
Begini ceritanya...
Dua hari lalu kami menemukan seekor kucing lucu. Warnanya sungguh cantik.
Putih bercorak hitam dengan lingkaran hitam di sekitar matanya. Mirip seekor
panda. Kami memutuskan untuk merawatnya bersama. Rumahkulah yang menjadi
pilihan untuk tempat tinggal kucing itu. Kami tinggal bersama. Aku bahkan
memberinya nama “Terebia”.
000
Aku kembali untuk melakukan kegiatan wajibku. Kembali
ke pekerjaanku. Hari ini aku harus membantu bibi Angela untuk mengambil telur
ayam dan menghitungnya. Aku senang akan bertemu dengannya. Aku akan
membawakannya ubi rebus kesukaannya....(gambar. sumber : https://www.google.com/search?client=firefox-b&biw=1366&bih=667&tbm=isch&sa=1&ei=4i7xWtjlHsao0ATxipWACg&q=lembaran+baru&oq=lembaran+baru&gs_l=img.3...10630.13148.0.13576.13.9.0.0.0.0.0.0..0.0....0...1c.1.64.img..13.0.0....0.X-38dBujl2s#imgrc=jji0HD2z-ZX_AM:)